Kertanagara, the last king of Singhasari
Kertanagara, the last king of Singhasari
Gifts with a political motivation
Singhasari’s fall
Temples for the king
Epilogue
Prambanan The Ancient Tample of Java Island
Prambanan Temple (built 9th century)
6 Fun Facts about the Indonesian Island of Java
6 Fun Facts about the Indonesian Island of Java
6Fun Facts about Java, the Indonesian Island
discover javanese culture
Java hosts the teeming, messy capital of Jakarta, the special administrative district of Yogyakarta, and the provinces of East Java, West Java, Central Java and Banten. Three main ethnic groups live on the island: West Java hosts the Sundanese, the Javanese are spread across West and Central Java, and the Maduresecome from the island of Madura (a part of East Java).
Getting around the island is fairly easy, with a reasonable if aging train, bus and plane network. The Javanese are keen domestic tourists, so much of the island's tourism infrastructure is geared toward locals, but it's easy enough for keen foreign travellers to tap into the network. Having said that, there's also a well-trodden foreign tourist trail that means non-adventure travellers can get around quite a bit without wandering too far outside their comfort zone.
Many travellers fly in to the mega-city of Jakarta to begin their trip. The city tends to either enthrall or repel, with its traffic congestion, polluted waterways, ill-functioning public transport and dirty streets; the flipside of this urban nightmare is glittering malls and intriguing markets; fashionably-clad, friendly people; ever-trendier restaurants and bars; interesting historical sites and a vibrant, if smog-choked, street- and night-life.
Escape from Jakarta and the picture is quite different. Java remains a predominantly agricultural island, peppered with volcanoes whose eruptions have left fertile soil in their wake, allowing the land to feed such a huge population.
Bogor just outside Jakarta is a popular green and cool escape from the city — and next stop on the well-worn tourist trail, followed by Bandung. This major city hosted the 1955 first-ever Asian-African Conference, or Bandung Conference, a high-profile affair of its era that triggered a wave of nationalist and anti-colonialist movements around the world.
Java offers some good beaches and surf breaks. In West Java, Pangandaran is the most popular beach resort area; lashed by a tsunami in 2006 that killed more than 500 people, the town has since regenerated and bounced back. West Java's best surf breaks include Pelabuhan Ratu and Panaitan Island.
The self-governing city of Yogyakarta is one of Java's top attractions. The cultural and artistic capital of the island manages to hold on to tradition while also making nods to modernity. In the old city lies the kraton, an 18th-century built walled area with the sultan living at the very centre.
Yogyakarta is the spot to catch a wayang kulit (shadow puppet) show, hear some gamelan, browse batik stores and learn a little about traditional and contemporary Javanese art. The Indonesian language courses on offer in this city are renowned as being the best on the island, if not all of the country.
Thanks to the number of university students living here, Yogyakarta has a vibrancy: think many cheap but decent restaurants, good market shopping featuring young local designers, decent live music and other varied cultural attractions.
A short distance from Yogyakarta — and usually visited on day trips from here — are Indonesia's two most famed archaeological sites. The first is the beautiful ninth century Buddhist temple complex of Borobudur. This UNESCO World Heritage site is one of the few Javanese tourist attractions that really draws big crowds, so be prepared for a less-than-deserted experience. It's worth arriving at sunrise to see the hundreds of Buddhist statues amid the muted pinks and yellows of dawn.
The second site is Prambanan, another UNESCO World Heritage site. Built possibly in response to Borobudur in the ninth century, it's the largest Hindu temple in Indonesia and one of the largest in Southeast Asia.
In Central Java, Dieng Plateau boasts Java's oldest Hindu temples from around the eighth century. Over 400 temples once dotted the area but today just eight remain. Located high above sea level, the spot is worth a visit more for the interesting trip itself than the temples, with mists descending in the afternoons adding to the atmosphere.
Another Central Java attraction is the small Karimunjawa archipelago north of the city of Semarang. The coral-fringed islands remain mostly undeveloped for now and boast lovely beaches, good snorkelling and diving.
East Java's Surabaya is Indonesia's second city. Though the main port and commercial centre of the east, it's not quite on the scale of Jakarta, but is still a congested, hectic city with charms that are not easily uncovered.
From here, an overnight trip to Gunung Bromo, an active volcano, is a popular and worthwhile excursion. Ride on a horse across a sweeping empty plain reminiscent of a Tibetan plateau or traipse across on foot to witness the peak at sunrise.
Lying just off East Java is the rugged island of Madura, famed for its bull races; other regional attractions include the former royal capital of Solo or Surakarta, as well as Malang, home to cooler weather, apple orchards and crowds of domestic tourists.
KETERKAITAN ANATARA GROBOGAN DAN YOGYAKARTA
KERAJAAN MEDANG KAMULAN DI GROBOGAN
Jika kita melinta
s di jalan raya Yogyakarta - Magelang, tepatnya di daerah kecamatan Salam secara tidak sengaja kita akanmenengok ke selatan jalan. Kuburan-kuburan Cina yang terletak di lereng bukit menjadi penyebabnya. Sayang, banyak dari kita tidak tahu bahwa bukit itu menyimpan sejarah masa lalu yang penting.
Gunung Gendol, demikian penduduk setempat menyebutnya, pernah menjadi saksi meletusnya Gunung Merapi sepuluh abad silam. Menurut Van Bemmelen, seorang ahli geologi, letusan Merapi yang terhebat dalam sejarahnya itu menyebabkan sebagian besar puncaknya lenyap. Lapisan tanah bergeser ke arah barat daya, sehingga terjadi lipatan. Gerakan tanah ini membentur Pegunungan Menoreh dan membentuk Gunung Gendol.
Di Gunung Gendol ini pula babak baru Kerajaan Mataram Kuno dimulai. Peristiwanya tercatat dalam prasasti Canggal yang diketemukan di halaman Candi Gunung Wukir. Candi ini terletak di salah satu puncak Gunung Gendol. Prasasti ini menulis bahwa Raja sanjaya telah mendirikan lingga diatas Bukit Sthirangga untuk keselamatan rakyatnya pada hari Senin tanggal 13 paro terang bulan Kartika 654 Saka atau 732 Masehi. Lingga itu ialah Candi Gunung Wukir yang hingga kini masih ada sisa-sisanya.
Pendirian lingga untuk memperingati bahwa Sanjaya telah dapat membangun kembali Kerajaan dan bertahta setelah menaklukkan musuh-musuhnya. Musuh-musuh itu telah menyerang Sanna, raja yang berkuasa sebelum Sanjaya. Pusat kerajaan Sanna dihancurkan. Ibukota kerajaan diserbu dan dijarah. Karena itu setelah Sanjaya dinobatkan mejadi raja, perlu dibangun ibukota baru dengan istana baru disertai pembangunan candi untuk pemujaan lingga kerajaan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa istana yang telah diserbu musuh sudah kehilangan tuahnya.
Bangunan suci yang didirikan Sanjaya terletak di wilayah Kunjarakunja. Tentang nama Kunjarakunja itu, Poerbatjaraka pernah mengemukakan pendapat bahwa yang yang dimaksud dengan daerah itu adalah daerah Sleman, Yogyakarta sekarang, berdasarkan arti kata itu, yaitu hutan Gajah dan adanya daerah wana ing alas i Saliman. Kata Saliman diartikan sebagai daerah Sleman sekarang.
Nama Sanjaya semakin jelas posisinya dalam sejarah Mataram Kuno dengan diketemukannya prasasti Mantyasih (907 Masehi) dan Wanua Tengah III (908 Masehi). Kedua prasasti yang dibuat oleh Dyah Balitung itu berisi daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Urutan pertama raja-raja tersebut ditempati oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (prasasti Mantyasih) dan Rahyangta ri Medang dapat disamakan dengan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Prasasti Mantyasih dibuat untuk menghormati leluhur yang telah diperdewakan di Medang di Poh Pitu. Disini untuk pertama kalinya nama Medang disebut.
"Medang adalah nama kerajaan sebelum bernama Mataram. Jadi, kerajaan Medang sama dengan kerajaan Mataram. Lebih tepatnya, Medang adalah embrio Mataram," kata Drs. Joko Dwiyanto-Dosen Fakultas Arkeologi UGM
TEMPAT WISATA GROBOGAN YANG SERING DIKUNJUNGI MUDA MUDI
Tempat Wisata di Grobogan yang Terkenal
Kabupaten Grobogan merupakan nama sebuah kabupaten yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Grobogan beribukota di Kota Purwodadi. Nama Purwodadi sendiri lebih terkenal dibandingkan dengan Kabupaten Grobogan, sehingga banyak yang mengira Purwodadi ini nama Kabupaten, padahal hanya nama sebuah kota. Purwodadi terkenal dengan wsata kulinernya yang sangat unik yaitu swike kodok. Hmm, jangan coba-coba kalau tidak suka ya, karena bagi sebagian orang makanan yang berbahan kodok merupakan sesuatu yang haram. Jika anda tidak ingin menikmati swike kodok, anda dapat memesan swike dengan bahan lainnya seperti ayam, tinggal pesan saja kepada penjualnya.
Di sektor pariwisata, Kabupaten Grobogan memiliki sejumlah tempat wisata yang sangat populer di kalangan wisatawan khususnya di wilayah Kabupaten Grobogan sendiri dan sekitarnya. Dalam tulisan ini akan kita bahas sebagai berikut.
1. Waduk Kedung Ombo

Waduk Kedung Ombo merupakan sebuah waduk yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Sebenarnya keberadaan waduk ini tidak hanya berada di Kabupaten Grobogan namun juga mencakup wilayah Kabupaten Sragen dan Boyolali. Luas Waduk Kedung Ombo sendiri sekitar 6576 hektar dimana dengan luas waduk itu dapat digunakan untuk mengairi sawah di Kabupaten robogan, Sragen, Boyolali, Pati, dan Demak. Saat ini selain digunakan sebagai sarana riasi, Waduk Kedung Ombo jua digunakan sebagai tempat wsiata yan sangat potensial. Untuk menuju Waduk Kedun Ombo anda dapat mencari alamatnya di Desa Rambat, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan atau sekitar 29 km dari Kota Purwodadi ke arah selatan. Di Waduk Kedung Ombo ini anda dapat menikmati pemandangan yang indah, serta dapat juga menikmati masakan ikan air tawar yang dijajakan sejumah warung makan di lokasi waduk. Selain itu juga disediakan kapal motor yang dapat mengangkut pengunjung mengeliingi waduk yang sangat indah ini.
(Baca : Megahnya Waduk Kedung Ombo Grobogan)
2. Bledug Kuwu

Bleduk Kuwu adalah salah satu tempat wisata yang unik di Kabupaten Grobogan. Di loksi ini anda dapat melihat sebuah kawah lumpur yang terus meletup secara berkala setiap antara 2-3 menit. Letupan ini jika ditinjau dari ilmu geologi merupakan sebuah aktivitas pelepasan gas dari dalam teras bumi. as yang keluar ini mengandun metana. Dari letupan ini juga menandung garam dan sejumlah mineral. Oleh masyarakat setempat kandungan mneral ini dimanfaatkan untuk membuatgaram bleng secara tradisional. Unik bukan ? Jika anda berminat mengunjuni tempat wisata Bleduk Kuwu ini anda dapat menunjunginya di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan.
3. Api Abadi Mrapen

Api Abadi Mrapen merupakan obyek wisata yang unik lainnya yang ada di Kabupaten Grobogan. Dinamakan api abadi karena di tempat ini terdapat sebuah api yang menyala terus dan tak pernah padam meskipun diguyur dengan hujan. Api abadi Mrapen ini pada dasarnya merupakan sebuah fenomena alam dimana di tempat tersebut terdapat sebuah lubang yang mengeluarkan gas alam dan kemudian terbakar di udara. Sumber api abadi Mrapen ini merupakan sumber api yang bersejarah karena sering digunakan sebagai sumber api bagi beberapa event nasional, seperti Pesta Olahraga Internasional Ganefo tahun 1963, Pekan Olah Raga Nasional atau PON, POR PWI tahun 1983 dll. Selain event olahraga, Sumber Api Mrapen juga digunakan sebagai sumber api dalam perayaan Hari Waisak. Lokasi Api abadi Mrapen sendiri terdapat di Desa Manggarmas, Kecamatan odong Kabupaten robogan Jawa Tengah. Lokasi ini terdapat di tepi jalan Purwodadi-Semarang.
4. Gua Macan dan Gua Lowo

Wisata alam yang terdapat di Kabupaten Grobogan lainnya adalah berupa Goa. Kita tahu bahwa di wilayah Kabupaten Grobogan terdapat pegunungan kapur yang cukup besar, sehingga ada beberapa goa yang terbentuk secara alami. Goa yang terdapat di Kabupaten Grobogan ini diantaranya adalah Goa Macan dan Goa Lowo. Kedua goa ini terletak berdekatan. Nama kedua goa ini dinamakan dengan nama binatang yang dahulu sering menghuni goa ini. Namun saat ini sudah tidak ada macan yang terdapat di goa macan, tinggal namanya saja. Letak Goa macan dan Goa Lawa sendiri terdapat di Dusun Watu Song Desa Sedayu Kecamatan Sedayu Kabupaten Grobogan. Di kedua goa ini dapat anda lihat pemandangan alam yang indah berupa goa di tengah rimbunnya pohon dan didalamnya terdapat banyak stalaktid dan stalagmit.
5. Gua Urang

Goa yang terdapat di Kabupaten Grobogan selain Goa Macan dan Goa Lawa adalah Goa Urang. Goa ini dinamakan Goa urang karena di tempat ini dahulu banyak ditemukan udang (dalam bahasa jawa disebut urang). Goa ini malah sering dikunjungi peneliti dari luar daerah, namun utnuk wisatawan belum banyak yang datang karena akses ke tempat ini cukup sulit karena harus melewati persawahan penduduk. Pemerintah Kabupaten Grobogan sepertinya belum banyak melakukan pengembangan terhadap obyek wisata yang cukup potensial ini. Lokasi Goa URang sendiri terdapat di Dusun Guwo, Desa Kemadohbatur, di Kec. Tawangharjo Kabupaten Grobogan.
6. Air Terjun Widuri

Satu lagi tempat wisata yang tersembunyi di Kabupaten Grobogan, yaitu Air Terjun Widuri. Air Terjun Widuri ini merupakan satu-satunya air terjun yang ada di Kabpaten Grobogan. Air Terjun Widuri memang belum banyak didatangi para wisatawan karena lokasinya yang agak tersembunyi, namun sebenarnya air terjun ini memiliki pemandangan alam yang sangat asri dan indah. Air Terjun WIduri ini dipercara oleh masyarakat sekitar sebagai lokasi tempat kejadian pertemuan antara Joko Tarub dan Dewi Nawangwulan yang merupakan seorang bidadari. Dalam cerita rakyat ini Dewi Nawangwulan bersama dengan bidadari lain yang berjumlah tujuh, sedang mandi di sungai Air Terjun Widuri ini. Joko Tarub kemudian mengambil selendang Dewi Nawangwulan agar tidak bisa kembali ke kayangan dan kemudian menikahinya. Jika anda berminat untuk datang ke wisata air Terjun Widuri ini anda dapat mendatanginya di alamat Desa Batur kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
7. Sendang Coyo

Tempat wisata selanjutnya yang ada di Kabupaten Grobogan adalah Sendang Coyo. Sendang Coyo merupakan salah satu sendang kebanggaan warga Grobogan. Sendang ini terus saja ada airnya meskipun pada musim kemarau. Menurut kepercayaan warga setempat, Sendang Coyo merupakan sendang peninggalan dari sunan Kalijaga. Sendang ini muncul dari bekas tanah yang ditancapkan tongkat beliau ketika sedang dalam perjalanan menyebarkan Islam di Tanah jawa. Sendang Coyo dipercaya dapat membuat siapa saja yang mandi di dalamnya menjadi awet muda. Namun mandinya harus dilakukan pada malam 1 Suro. Tentu saja ini hanya kepercayaan penduduk setempat, semua akhirnya kembali pada kepercayaan anda masing-masing. Untuk lokasi Sendang Coyo ini terdapat di Desa Mlowokarangtalun Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan kurang lebih 20 KM sebelah tenggara kota Purwodadi.
8. Waduk Klambu

Selain Waduk KEdung Ombo, Kabupaten Grobogan juga memiliki waduk lainnya yaitu Waduk Klambu. Waduk Klambu memang tidak setenar Waduk Kedung Ombo, namun keberadaannya sudah banyak diketahui warga Grobogan. Waduk ini juga difungsikan sebagai sarana irigasi, dimana air didalamnya didapat dengan cara membendung 2 aliran sungai yaitu Sungai Lusi dan Sungai Serang. Tidak hanya untuk mengairi sawah di Grobogan, Waduk Klambu juga digunakan untuk mengairi sawah di wilayah Kabupaten Kudu dan Pati. Selain untuk irigasi Waduk Klambu juga banyak dikunjungi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam waduk Kelambu, meskipun pengunjung tersebut hanya berasal dari Warga Grobogan sendiri. Lokasi Waduk Klambu adalah di Desa Klambu, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan.
9. Jatipohon

Obyek wisata selanjutnya yang ada di sekitar Purwodadi Groboga adalah Jatipohon. Jika anda sering melewati jalur Pati-Purwodadi maka anda pasti sangat familiar dengan wilayah Jatipohon. Wilayah Jatipohon ini merupakan wilayah pegunungan yang terletak di Utara Kota Purwodadi dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Sukolilo Pati. Karena berada di atas perbukitan, maka suasana disni terasa sejuk dan asri. Ada beberapa tempat wisata yanga ada di Jatipohon ini, diantaranya adalah sumber mata air Jatipohon, gardu pandang untuk melihat keindahan Kota Purwodadi dari atas bukit, Langen Sari Indah dimana didalamnya terdapat kolam renang, pondok lesehan, bumi perkemahan, penginapan dll.
10. Kolam Renang Ayodya

Kolam Renang Ayodya merupakan sebuah wisata keluarga baru yang terdapat di Kota Purwodadi Grobogan, bahkan ada juga yeng menyebutnya dengan ikon wisata baru bagi Kabupaten Grobogan. Hal itu tidaklah mengherankan karena Kolam Renang Ayodya tidak sekedar menyediakan kolam renang namun juga menawarkan sebuah wahana permainan anak yang sangat digemari seluruh anggota keluarga. Nama resmi dari Kolam Renang Ayodya ini sebenarnya adalah Ayodya Bloombang Water Park namun banyak yang menyebutnya dengan Kolam Renang Ayodya. bagaimana tidak lengkap, di Kolam Renang Ayodya ini sudah terdapat 2 buah kolam besar dengan berbagai sarana permainan air seperti twin slide, family slide, splash bucket serta sebuah jacuzzi dengan atraksi utama sebuah tower slider dengan tinggi 7 meter untuk memicu adrenalin. Jadi yang pengen liburan seru bersama keluarga, datang saja ke Ayodya Bloombang Water Park di Kota Purwodadi Grobogan.
11. Cindelaras

Obyek Wisata Cindelaras ini terdapat di Desa Bandungharjo, kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Di Area wisata Cindelaras ini menawarkan keindahan alam berupa waduk yang dikelilingi hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani. Dahulu tempat ini sering iunakan sebagai tempat kemah bagi siswa-siswi di sekitar Kota Purwodadi. Namun sayangnya waduk yang ada di Cindelaras ini tidak selalu terdapat air, apabila musim kemarau airnya sering kering kerontang.